Wawancara yang berguna bukan yang paling panjang, tapi yang membuat narasumber mengatakan hal yang belum pernah ia tulis di grup WhatsApp. Cara mewawancarai warga untuk laporan sosial bertumpu pada tiga hal: siapa yang ditemui, bagaimana pertanyaan disusun, dan bagaimana jawaban dicatat tanpa mengubah maknanya.
Tentukan dulu siapa yang perlu ditemui
Kesalahan paling sering terjadi sebelum wawancara dimulai: daftar narasumber disusun berdasarkan siapa yang mudah dihubungi, bukan siapa yang punya pengalaman langsung. Untuk laporan sosial, tiga jenis narasumber ini biasanya cukup.
- Warga yang mengalami langsung masalahnya, misalnya penghuni gang yang terdampak banjir atau pedagang yang tergusur penataan.
- Warga yang mengamati dari dekat tanpa menjadi pelaku utama, seperti ketua RW, guru, atau kader posyandu.
- Pihak yang dianggap bertanggung jawab, entah kelurahan, pengelola pasar, atau kontraktor proyek.
Kalau hanya mewawancarai kelompok pertama, laporanmu berisi keluhan tanpa konteks. Kalau hanya kelompok ketiga, laporanmu berisi klaim resmi tanpa suara warga. Keduanya perlu, dan urutan mewawancarainya sebaiknya dari warga dulu. Alasannya praktis: setelah mendengar versi warga, kamu tahu pertanyaan apa yang layak diajukan ke pihak lain.
Susun pertanyaan sebelum bertemu
Tulis lima sampai delapan pertanyaan inti di buku catatan. Jumlahnya sengaja sedikit supaya kamu tidak sibuk membaca daftar saat narasumber sedang berbicara. Pisahkan pertanyaan jadi tiga lapis.
Lapis pertama: fakta yang bisa diverifikasi
Mulai dari hal konkret. Sejak kapan masalah ini terjadi? Berapa kali dalam sebulan? Siapa saja yang terdampak? Jawaban lapis ini yang nanti kamu cocokkan dengan data dari kelurahan atau berita lama.
Lapis kedua: pengalaman dan urutan kejadian
Minta narasumber menceritakan apa yang ia alami dari awal. Pertanyaan seperti “apa yang terjadi saat itu” biasanya menghasilkan cerita lebih utuh daripada “bagaimana perasaan Anda”. Simpan pertanyaan soal perasaan untuk bagian akhir, karena narasumber yang sudah nyaman bercerita akan menjawabnya dengan lebih jujur.
Lapis ketiga: usulan dan penilaian
Baru di sini tanyakan pendapatnya. Apa yang seharusnya dilakukan? Siapa yang paling bertanggung jawab? Hindari pertanyaan yang menyiratkan jawaban, misalnya “bukankah pemerintah daerah sudah lalai?”. Pertanyaan seperti itu menghasilkan kutipan yang tidak bisa kamu pertanggungjawabkan nanti.
Mulai wawancara tanpa terburu-buru
Perkenalkan diri, sebutkan untuk apa hasil wawancara dipakai, dan minta izin mencatat atau merekam. Kalau narasumber tidak mau direkam, catat saja. Jangan menyalakan perekam diam-diam. Selain soal etika, risiko konflik di kemudian hari lebih besar daripada untungnya.
Buka dengan pertanyaan ringan yang tidak menuntut keberanian: sudah berapa lama tinggal di sini, kerja di mana, kegiatan hariannya apa. Dua menit pertama ini membuat suasana lebih tenang dan sering memunculkan informasi yang tidak kamu duga, termasuk nama-nama orang lain yang perlu ditemui.
Saat narasumber mulai bicara, biarkan ia menyelesaikan kalimatnya. Jeda beberapa detik setelah ia berhenti sering diisi tambahan yang jauh lebih penting daripada jawaban awalnya. Kalau ada istilah lokal yang tidak kamu pahami, tanyakan langsung artinya. Menanyakan arti sebuah kata bukan tanda ketidaktahuan, tapi cara memastikan kutipanmu tidak salah tafsir.
Catat lebih dari kata-kata
Selain kalimat, catat hal-hal yang menjelaskan konteks: lokasi wawancara, waktu, siapa saja yang hadir, dan apakah ada orang lain yang menyela atau membenarkan cerita. Untuk laporan sosial, keterangan seperti “disampaikan sambil menunjukkan surat dari kelurahan” membuat tulisanmu lebih dipercaya.
Bedakan dengan jelas mana kutipan langsung dan mana rangkumanmu. Cara paling aman: gunakan tanda kutip hanya untuk kalimat yang benar-benar diucapkan persis, dan tulis rangkuman tanpa tanda kutip. Kalau ragu apakah sebuah kalimat sudah persis atau belum, parafrasekan saja.
Teknik mencatat rapi ini satu paket dengan cara menyusun catatan warga agar dianggap serius, terutama kalau hasil wawancara nanti dipakai untuk mendukung pengaduan atau pertemuan resmi.
Verifikasi sebelum menulis
Setelah semua wawancara selesai, susun tiga kolom: klaim, sumber, dan bukti. Klaim soal jumlah warga terdampak perlu bukti berupa data kelurahan atau hitungan sendiri yang bisa dijelaskan. Kalau tidak ada bukti, tulis sebagai keterangan narasumber, bukan sebagai fakta.
Hubungi kembali narasumber untuk memastikan kutipan yang akan kamu pakai tidak berubah makna. Cukup kirim satu-dua kalimat lewat pesan singkat. Kegiatan ini memakan waktu, tapi menyelamatkanmu dari koreksi terbuka yang merusak kredibilitas laporan.
Kalau laporan ini bagian dari pengawasan kebijakan yang lebih luas, langkah verifikasi yang sama berlaku untuk data anggaran atau dokumen resmi. Prinsipnya serupa dengan cara warga mengawasi kebijakan daerah tanpa jadi lembaga, hanya skalanya lebih kecil dan fokus pada pengalaman orang.
Menulis hasil wawancara
Buka laporan dengan satu adegan konkret dari wawancara, bukan dengan latar belakang umum. Setelah itu baru jelaskan masalahnya, lengkapi dengan data, dan sisipkan kutipan yang paling menjelaskan. Kutipan panjang biasanya tidak perlu; satu kalimat tajam lebih berguna daripada satu paragraf penuh.
Kalau hasil wawancara ingin kamu jadikan tulisan opini, susunannya berbeda. Panduan menulis opini untuk media massa tanpa pengalaman bisa jadi acuan untuk mengubah bahan mentah wawancara menjadi argumen yang enak dibaca editor.
Sebelum dikirim atau dipublikasikan, baca ulang satu kali khusus untuk mencari kalimat yang tidak bisa kamu buktikan. Coret atau ubah kalimat itu. Laporan sosial yang berhati-hati dalam klaim biasanya bertahan lebih lama dibanding laporan yang mengejar kesan dramatis.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa lama idealnya satu sesi wawancara warga?
Untuk laporan sosial, 30 sampai 60 menit biasanya cukup. Lebih dari itu, narasumber mulai lelah dan jawabannya mengulang. Kalau butuh cerita lebih dalam, lebih baik membuat dua sesi terpisah daripada memaksa satu sesi panjang.
Bagaimana kalau narasumber menolak namanya ditulis?
Hormati penolakan itu dan tanyakan alasannya. Kamu masih bisa memakai keterangannya tanpa nama, asalkan jelaskan di laporan mengapa identitasnya disamarkan dan pastikan keterangan itu tetap bisa diverifikasi lewat sumber lain. Jangan memakai inisial kalau sebenarnya narasumber mengizinkan nama lengkap.
Apakah rekaman suara wajib?
Tidak wajib. Catatan tertulis yang rapi sudah cukup, terutama kalau narasumber tidak nyaman direkam. Yang wajib adalah memastikan kutipan langsung benar-benar sesuai ucapan, dan itu bisa dilakukan dengan membaca ulang catatan di tempat sebelum pulang.

